Bersedia Membagi dengan Sesama: Belajar dari Teladan Yesus dan Orang Kaya
Pada suatu pagi di kelas, Rafael
yang terkenal cerdas dan berhati mulia membawa bekal makan siang mewahnya.
Ketika waktu istirahat tiba, teman-teman berkumpul bersama, namun salah
satunya, Rio, terlihat muram. Rafael bertanya penasaran, "Ada apa, Rio?
Kenapa murung begitu?" Dengan pelan Rio menjawab, "Aku lupa membawa
bekal dan uangku tertinggal di rumah." Rafael terdiam sejenak, kemudian
membuka kotak makan siangnya dan berkata, "Tak apa, kita bagi dua saja
ya."
Kisah Rafael mengingatkan kita
pada Injil Markus 10:17-30, di mana seorang pemuda kaya datang kepada Yesus dan
bertanya cara mendapat hidup abadi. Yesus menjawab dengan menyuruhnya menjual
semua hartanya dan membagikannya kepada orang miskin. Namun, pemuda itu pergi dengan
murung karena kekayaannya yang melimpah dan tak mau melepasnya. Cerita ini
bukan hanya tentang harta benda, tetapi juga hati yang rela berbagi,
sebagaimana Rafael tunjukkan kepada Rio.
Sebagai siswa di Sekolah Katolik,
kita sering diingatkan akan pentingnya sikap berbagi, bukan hanya barang,
tetapi juga perhatian, waktu, dan kasih sayang. Santo Fransiskus dari Assisi
adalah teladan sempurna semangat berbagi. Ia melepas segala hartanya untuk
hidup sederhana dan melayani orang miskin. Santo Fransiskus mengajarkan kita
bahwa kebahagiaan sejati tak diukur dari kekayaan atau harta benda melainkan
pemberian diri kepada Tuhan dan pelayanan kepada sesama. Inilah panggilan bagi
kita semua, membuka hati dan tangan kepada mereka yang membutuhkan.
Dengan berbagi kepada sesama,
kita mengamalkan nilai-nilai cinta kasih yang Yesus ajarkan. Tak perlu kaya dulu, berbagi
bisa mulai hal-hal kecil, seperti Rafael berbagi bekalnya kepada Rio. Dalam
tindakan kecil ini, kita turut serta dalam misi kasih Kristus. Setiap kali
berbagi, iman kita dikuatkan, karena kita belajar untuk tidak terikat pada harta,
melainkan pada Tuhan pemberi segalanya.
Jadi, mari kita belajar selalu
siap membagi dengan sesama, sekecil apapun. Seperti Yesus yang berikan
nyawa-Nya untuk kita, kita juga dipanggil memberi dengan tulus dan penuh kasih.
Sebagaimana kata Santa Theresia dari Kalkuta, "Tidak semua semua orang
bisa melakukan hal-hal besar, tapi kita bisa melakukan hal kecil dengan cinta besar." Biarlah
tindakan berbagi kita menjadi wujud nyata kasih Tuhan bagi sesama di sekitar.
"Berbagi
tidak harus menunggu kelimpahan, tetapi dimulai dari ketulusan hati yang peduli
pada sesama."
Refleksi
- Mengapa Rafael memutuskan untuk berbagi
bekal makan siangnya dengan Rio?
- Apa pelajaran yang dapat diambil dari
kisah pemuda kaya dalam Injil Markus 10:17-30?
- Siapakah Santo Fransiskus dari Assisi dan
apa yang ia ajarkan tentang kebahagiaan sejati?
- Apakah ada momen dalam hidupmu di mana
berbagi sesuatu yang kecil membawa kebahagiaan yang besar bagi orang lain?
Bagikan pengalaman tersebut.




