Kasih kepada Sesama: Meneladani Orang Samaria yang Bermurah Hati
Pagi yang cerah di sebuah sekolah
Katolik, keceriaan para siswa memenuhi koridor sekolah. Di kelas 10B, Yemima
dikenal sebagai siswi terpandai namun kurang perhatian terhadap teman-teman
yang kesulitan. Pada suatu hari, rekan sekelasnya bernama Aprilian tidak masuk
karena sakit. Meskipun berhari-hari melihat Aprilian kebingungan mengejar
ketertinggalan pelajaran, Yemima lebih memilih menyibukkan diri sendiri.
"Bukan urusanku," pikirnya.
Suatu hari, guru agama memberi
pengajaran mengenai Perumpamaan Orang Samaria yang Bermurah Hati yang
dikisahkan dalam Injil Lukas 10:25-37. Seorang ahli Taurat bertanya pada Yesus
tentang apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan kehidupan kekal. Yesus
menceritakan seorang pria diserang perampok lalu ditinggalkan parah di tepi
jalan. Dua orang melintas tanpa peduli, namun seorang Samaria justru menolong
dengan merawat luka dan membawanya ke penginapan.
Kisah ini menyentuh hati Yemima.
Ia sadar bahwa selama ini sering acuh tak acuh seperti imam dan orang Lewi.
"Apakah bisa dikatakan mengasihi jika tak membantu yang kesulitan?"
pikirnya. Sejak itu Yemima membantu Aprilian dengan memberikan catatan dan
penjelasan pelajaran yang terlewatkan. Aprilian sangat berterima kasih,
persahabatan mereka semakin erat. Yemima belajar kasih sejati bukan sekadar
ucapan tapi perlu diamalkan dalam tindakan nyata.
Sebagai penguatan iman, Yemima
mengingat kutipan dari Santo Fransiskus bahwa "Memberi lebih bahagia
daripada menerima." Menurut Yemima, kasih sejati adalah meluangkan waktu
untuk membantu sesama yang kesusahan. Dari tindakan kecil seperti menolong
teman yang ketertinggalan pelajaran, kita belajar menjadi pribadi yang lebih
baik.
Melalui pengalaman sederhana ini,
Yemima memahami bahwa kasih dan sikap bijak terhadap sesama adalah panggilan
hidup semua umat manusia. Kita dipanggil menjadi seperti "Orang Samaria
yang Bermurah Hati" di tengah kehidupan sehari-hari, terutama di sekolah.
Setiap dari kita dapat menabur kasih dengan sikap lemah lembut—menghibur teman yang
sedih, membantu kesulitan mereka yang membutuhkan, atau mendengarkan curhatan
hati sahabat yang galau. Seperti Yesus selalu mengajarkan kasih, kita pun harus
mentaatinya dan mengamalkannya dan kehidupan sehari-hari.
"Kasih sejati
bukan sekadar ucapan, melainkan tindakan nyata yang peduli terhadap sesama.”
Refleksi
- Apa yang membuat Yemima akhirnya tergerak untuk
membantu Aprilian, dan bagaimana sikapnya berubah setelah mendengar
pengajaran tentang Orang Samaria yang Bermurah Hati?
- Dalam Perumpamaan Orang Samaria yang Bermurah Hati,
siapa saja yang melintas di dekat pria yang dirampok, dan siapa yang
akhirnya menolongnya?
- Apa pesan utama dari pengajaran Santo Fransiskus yang
diingat oleh Yemima, dan bagaimana kutipan tersebut mempengaruhi
tindakannya?
- Pernahkah kamu berada dalam situasi di mana kamu
melihat seseorang yang membutuhkan bantuan namun ragu untuk menolong? Apa
yang bisa kamu pelajari dari sikap Yemima dalam kisah ini?
- Menurutmu, bagaimana kita bisa lebih aktif dalam
menerapkan kasih kepada sesama di lingkungan sekolah atau komunitas
sehari-hari?




