Menerima dengan Hati Terbuka

Menerima dengan Hati Terbuka

Pada suatu pagi yang cerah di sebuah sekolah Katolik, ada seorang siswi bernama Aurel. Aurel dikenal sebagai siswi yang pintar dan senang belajar. Namun, ada satu hal yang kadang membuat Aurel merasa ragu: setiap kali pelajaran agama membahas hal-hal yang sulit dipahami, seperti misteri iman atau ajaran yang terdengar berat, Aurel merasa hatinya gelisah. Pada suatu hari, ketika pelajaran agama membahas tentang perkataan Yesus dalam Injil Yohanes pasal 6:60-69, Aurel merasa hatinya semakin bingung.

Dalam bagian teks tersebut, banyak murid Yesus yang merasa berat menerima ajaran-Nya tentang roti surga. Mereka berkata, "Perkataan ini susah, siapa yang sanggup mendengarkannya?" (Yohanes 6:60). Aurel merasa seperti murid-murid itu—bergoncang antara keinginan untuk percaya dan keraguan yang mengganggu. Namun, di kelas, Guru mereka berusaha menjelaskan dengan lembut bahwa menerima ajaran Yesus berarti membuka hati, walaupun kita tidak sepenuhnya memahami.

Setelah pelajaran agama berakhir, Aurel duduk di bangku taman, memikirkan apa yang telah diajarkan. Dia melihat teman sekelasnya, Afsel, yang terkenal dengan sifatnya yang senantiasa ceria dan ramah kepada semua orang. Ternyata, Afsel berasal dari keluarga sederhana dan sering menghadapi banyak tantangan dalam hidupnya. Namun, Afsel selalu menerima semua keadaan dengan hati yang terbuka dan percaya bahwa Tuhan selalu menyediakan jalan kemudahan. Afsel mengingatkan Aurel bahwa iman bukanlah tentang memahami segalanya, melainkan tentang percaya dan menerima, walau dalam ketidakpastian.

Aurel pun teringat akan kata-kata Santo Agustinus: "Pahamilah agar kamu percaya; percayalah agar kamu memahami." Aurel mulai menyadari bahwa ada saatnya dia harus belajar menerima dengan hati yang terbuka, seperti Afsel, dan percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah untuk masing-masing dari kita. Rasa bingungnya mulai berkurang, dan dia merasa lebih tenang.

Dalam perjalanan pulang, Aurel berjanji pada dirinya sendiri untuk terus belajar menerima setiap ajaran dengan hati yang terbuka, meski kadang sulit. Dia menyadari bahwa iman adalah perjalanan yang penuh misteri, tapi juga penuh dengan kasih dan rahmat yang menuntun. Sejak saat itu, Aurel merasa lebih kuat dalam imannya, dan siap menghadapi setiap tantangan dengan hati yang terbuka, percaya bahwa Tuhan selalu bersamanya.

"Iman bukanlah tentang memahami segalanya, tetapi tentang membuka hati dan percaya di tengah ketidakpastian."

Kreator: Fr. Silvianus