Mengucap Syukur
Di sebuah sekolah Katolik, ada
siswi bernama Felicia yang dikenal baik dan ramah. Pada suatu hari, saat
istirahat, Felicia membantu temannya, Litha, yang terjatuh dan terluka di
halaman sekolah. Litha sangat berterima kasih dan terus memuji Felicia atas
kebaikannya. Namun, di balik senyum Litha, Felicia justru tersenyum lebih kecil
daripada biasanya. Teman-temannya pun bertanya, mengapa ia tampak murung
padahal baru saja berbuat baik.
Setelah pulang sekolah, Felicia
pergi ke kapel sekolah dan merenung di sana. Dia teringat bahwa dalam Injil
Lukas 17: 11-19, pada ibadat pagi tadi, Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta,
tetapi hanya satu dari mereka yang kembali untuk mengucap syukur. Hati Felicia
terketuk, menyadari bahwa rasa syukur adalah yang membuat seseorang menjadi
sangat dekat dengan Tuhan. Dia mulai mengingat banyak kebaikan Tuhan yang telah
dia terima, dari keluarga yang mencintainya, teman-teman yang baik, hingga
kesempatan belajar di sekolah yang penuh kasih ini.
Keesokan harinya, Felicia
mendekati guru agamanya, Sr. Agnes dan berkata: "Saya ingin belajar
mengucap syukur lebih dari sekadar kata-kata, Bu." Sr. Agnes tersenyum dan
menceritakan kisah Santo Fransiskus dari Assisi, yang selalu mengucap syukur
dalam setiap situasi, bahkan di saat-saat sulit. "Santo Fransiskus
mengajarkan kita untuk melihat kehadiran Tuhan dalam setiap hal kecil, dari
sekuntum bunga, sinar matahari, hingga dalam rasa sakit. Syukur adalah yang
membuat hatinya penuh sukacita," kata Sr. Agnes dengan lembut.
Felicia mulai belajar untuk tidak
hanya mengucap syukur saat sesuatu yang luar biasa terjadi, tetapi dalam
hal-hal sederhana yang dia alami setiap hari. Dia mulai berterima kasih kepada
orang-orang di sekitarnya, mulai dari petugas kebersihan yang menjaga sekolah
tetap bersih, hingga ibu kantin yang menyediakan makanan setiap hari. Setiap
ucapan syukur itu memperkuat jiwanya dan memberinya sukacita yang baru.
Dari perjalanannya, Felicia
menemukan bahwa bersyukur bukan hanya tentang mengucapkan terima kasih, tetapi
menjadi cara hidup. Dia menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dan bekerja dalam
setiap situasi. Dengan hati yang penuh syukur, Felicia merasa lebih dekat
dengan Tuhan, sebagaimana orang kusta yang kembali kepada Yesus. Sejak saat
itu, ia berkomitmen untuk menghidupi syukur dalam setiap langkah kehidupannya,
seperti teladan St. Fransiskus yang selalu bersyukur dan penuh sukacita di
dalam Tuhan.
"Bersyukur
bukan hanya tentang hal-hal besar, tetapi juga menyadari nikmat Tuhan dalam
setiap kejadian kecil yang kita alami."
Refleksi:
- Apa yang dilakukan Felicia
ketika temannya, Litha, terjatuh di halaman sekolah?
- Apa yang
membuat Felicia merenung di kapel sekolah setelah membantu Litha?
- Bagaimana
Santo Fransiskus dari Assisi memberikan teladan dalam hal mengucap syukur
menurut Sr. Agnes?
- Apa makna
syukur bagi kamu sendiri, dan dalam situasi apa saja kamu bisa
mengaplikasikan sikap bersyukur dalam kehidupan sehari-hari?




