Berbagi Dari Hati Yang Tulus
Di suatu pagi yang cerah, siswa-siswi kelas VII berkumpul di
aula sekolah untuk mengikuti kegiatan amal. Masing-masing murid datang dengan
sumbangan yang berbeda-beda mulai dari buku pelajaran yang sudah tidak
terpakai, pakaian bekas yang masih layak pakai, hingga makanan ringan yang masih layak dikonsumsi. Di tengah keramaian
para siswa, ada seorang siswi bernama Stella yang tampak ragu. Hanya sebuah
buku catatan kecil yang usang yang sedang dibawanya. "Aku ingin ikut
berpartisipasi namun hanya inilah yang bisa kusumbangkan," bisiknya merasa
malu.
Saat acara dimulai, ibu guru membuka dengan membacakan kisah
seorang janda miskin di Injil Markus 12:38-44 yang meletakkan dua keping perak
ke dalam kotak persembahan Bait Allah, meskipun itu adalah seluruh hartanya.
"Walaupun ia sangat miskin, ia tetap berdonasi dengan tulus dan lebih
besar daripada yang lain karena ia memberikan dari yang seluruh
milikinya," tutur ibu guru mengulas pesan moral kisah tersebut.
Mendengarkan cerita tersebut, Stella mulai memahami bahwa nilai sebuah
sumbangan tidak terukur dari jumlahnya tetapi dari niat dan ketulusan hati.
Ketika gilirannya, Stella maju dengan tangan gemetar untuk
menyerahkan buku catatan kecilnya. Pandangan semua orang tertuju padanya, namun
ia tetap berdiri tegak. "Ini memang kecil dan tidak berharga, tapi aku
ingin turut berbagi," ucapnya tulus. Para guru dan teman-temannya terharu
melihat ketulusan hatinya. Ibu guru mengutip kata-kata Santo Fransiskus, "It
is in giving that we receive," yang artinya dengan berbagi kita justru
akan menerima. Stella mengangguk mengerti bahwa yang diberikannya bukan hanya
benda material tetapi juga kasih dan perhatian.
Setelah kegiatan selesai, Stella merasa lega dan bahagia
karena perasaan rendah diri yang dirasakannya telah hilang. Ia bangga akan
kemampuannya untuk berbagi dengan tulus. Ia tersenyum menyadari hadiah terindah
dalam hidup bukanlah yang diterima melainkan keberanian memberi dengan hati
yang murni.
Keesokan harinya, teman-teman Stella mulai belajar untuk
saling peduli dan berbagi dengan tulus, tidak hanya materi tetapi juga perhatian
dan dukungan. Mereka memahami bahwa ketulusan hati dalam berbagi, sekecil
apapun, merefleksikan kasih yang diajarkan Tuhan, menjadikan lingkungan sekolah
lebih damai dan penuh kasih sesuai ajaran Yesus.
"Nilai suatu pemberian tidak
diukur dari besarnya, melainkan dari kesungguhan hati yang menyertai."
Refleksi:
- Apa
yang dibawa Stella sebagai sumbangan dalam kegiatan amal di sekolah?
- Kisah
dari Injil apa yang diceritakan oleh ibu guru di awal kegiatan amal?
- Apa
pelajaran yang dipetik Stella dari kisah janda miskin yang diceritakan
oleh ibu guru?
- Jika
kamu berada di posisi Stella, apakah kamu akan memiliki keberanian yang
sama untuk berbagi? Mengapa?




