Hikmat Lebih Berarti dari Emas
Suatu
pagi di sekolah, dalam nuansa ceria, Prisca, seorang murid kelas 9, duduk
termenung di sudut halaman sekolah. Pikirannya kacau karena persoalan yang
tengah dihadapinya. Prestasinya dalam pelajaran matematika menurun dan dia
merasa teman-teman tak memahami situasinya. Sejak kecil Prisca berusaha menjadi
siswa teladan. Akan tetapi kali ini dia merasa gagal dan itu mengusik
kepercayaan dirinya. "Kalau saja aku bisa lebih cerdas, pasti segala
masalahku akan selesai," gumam Prisca dalam hati.
Saat
itu, Pak Bastian, salah satu guru di sekolah, melihat Prisca lalu duduk di
sampingnya. "Kamu kelihatan gelisah, Prisca. Apa bisa dibantu?" tanya
Pak Bastian lembut. Prisca pun menceritakan segalanya. Setelah mendengarkan
dengan saksama, Pak Bastian berkata, "Prisca, ingatlah kisah dari Injil
Lukas 11:29-32 mengenai orang-orang yang meminta tanda kepada Yesus. Mereka
senantiasa mencari sesuatu yang luar biasa di luar sana, tetapi lupa bahwa
hikmat dan kebenaran ada di hadapan mata. Hikmat tak selalu berasal dari
hal-hal besar atau nilai sempurna, melainkan dari hati tulus serta niat mulia
belajar dan memperbaiki diri."
Pak
Bastian kemudian bercerita tentang Santo Yohanes Bosco, seorang santo yang
sangat menginspirasi banyak remaja. Santo Yohanes Bosco tak memiliki harta,
namun dengan hikmat dan kasih sayang, dia mampu membimbing dan menyelamatkan
banyak anak-anak dari pinggiran kota. "Hikmat, Prisca, lebih berarti
daripada emas atau nilai sempurna. Inilah anugerah yang membantu kita memahami
dunia dan diri sendiri lebih baik. Seperti Santo Yohanes Bosco, gunakan
hikmatmu untuk belajar dari kesalahan dan terus maju, bukan hanya mencari
kesempurnaan," lanjut Pak Bastian.
Prisca
mulai menyadari ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar hasil atau
pengakuan orang lain. Dia memahami bahwa hikmat ialah kemampuan untuk melihat
lebih dalam, menerima diri, serta berjuang dengan tulus. Prisca pun merasa
lebih tenang dan bersyukur karena memiliki kesempatan belajar, bukan sekadar
pelajaran sekolah melainkan juga tentang hidup.
Hari
itu Prisca kembali ke kelas dengan semangat baru. Dia tak lagi memandang nilai
sebagai ukuran keberhasilan, tetapi sebagai kesempatan menjadi pribadi yang
lebih baik. Dalam hatinya, dia mengingat kata-kata Pak Bastian: "Hikmat
lebih berarti dari emas." Inilah hikmat yang akan memandu Prisca dan
teman-temannya dalam perjalanan hidup, sebuah hikmat yang selalu hadir dalam
kasih Tuhan.
"Nilai dan prestasi adalah hasil,
namun hikmat adalah panduan yang membawa kita memahami arti perjuangan."
Refleksi:
- Apa yang menjadi penyebab Prisca
merasa gelisah dan tertekan di sekolah?
- Bagaimana Pak Bastian menasihati
Prisca untuk menghadapi kesulitannya dalam pelajaran matematika?
- Siapakah tokoh Santo yang disebut
oleh Pak Bastian dalam cerita, dan apa yang bisa dipelajari dari kehidupannya?
- Pernahkah kamu mengalami situasi di
mana kamu merasa gagal atau tidak cukup baik? Bagaimana cara kamu
menghadapinya?




